Yang Mana Pilihan Anda? Foke Atau Jokowi



Yang Mana Pilihan Anda? Foke Atau Jokowi - Pertarungan menuju tahta DKI-1 sudah mendekati akhir. Setelah melalui Pilkada putaran pertama, akhirnya warga DKI memilih 2 pasangan untuk melaju ke tahapan berikutnya yaitu pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli serta Jokowi dan Basuki. Siapa yang akan keluar sebagai pilihan warga Jakarta memang baru akan diketahui tanggal 20 September mendatang, namun tidak ada salahnya menilik sepak terjang mereka dalam kancah perpolitikan selama ini untuk lebih memantapkan pilihan saat berada di bilik suara nanti.
Fauzi Bowo, atau akrab disapa foke adalah calon incumbent untuk Pilkada kali ini. Setelah ditinggal mundur oleh Wagubnya, Prijanto, Foke meminang Nachrowi Ramli untuk mendampinginya melaju pada Pilkada DKI Jakarta. Sebagai seorang pemimpin, kiprah Foke tidak diragukan. Dalam masa pemerintahannya, ia membuka beberapa jalur baru untuk busway serta memperbanyak armada. Dari sektor pendidikan, ia menggalakkan Bantuan Operasional Sekolah sehingga rakyat miskin bisa mengenyam pendidikan.
Kehebatan Foke bukan berarti tanpa kekurangan, semua orang nampaknya sadar bahwa dalam kampanye putaran kedua ini, Foke seperti panik suaranya akan mengalir ke kubu Jokowi. Maka dimulailah serangkaian kampanye yang tidak cerdas dan mengandung unsur SARA. Bahkan, saat kebakaran di Benhil beberapa waktu lalu ia secara langsung mengatakan hal yang berbau SARA dan menjatuhkan kubu lawan didepan para korban kebakaran. Majunya Foke didukung oleh banyak partai seperti Partai Demokrat, Partai Golkar, PKS, PPP, PKB, PAN . Banyaknya partai besar yang mendukung membuat beberapa pihak sangsi mengenai kebijakan Foke ketika ia terpilih lagi, dikhawatirkan langkah-langkah yang diambil Foke karena tuntutan ‘bayar hutang’ kepada partai yang mendukungnya.
Kekurangan Foke yang jelas terlihat selama masa kepemimpinannya adalah pembangunan yang tidak merata, banyak mall dibangun dipusat kota sementara lahan kumuh tidak dibina dengan baik. Meskipun Jakarta tidak sampai mengalami banjir besar saat pemerintahannya, namun pembangunan yang tidak merata tersebut membuat Jakarta menjadi lumpuh hanya karena hujan beberapa ment, kemacetan juga semakin parah.
Lain Foke, lain juga dengan Jokowi. Pria yang satu ini maju bersama Basuki denngan sokkongan PDI dan Partai Gerindra. Jokowi adalah Walikota Solo dan pada saat pilkada Solo, ia menang mutlak. Kemenangan tersebut adalah bukti betapa ia dicintai oleh warganya. Kebijakan Jokowi untuk pembangunan Kota Solo perlu diacungi jempol, alih-alih memberantas kaki lima ia justru membuat sebuah pusat terpadu dimana kaki lima bisa berdagang dengan layak tanpa perlu takut dikejar Satpol PP. Ia juga menerapkan tarif sewa yang sangat terjangkau untuk mereka.
Kecintaan Jokowi pada produk nasional ia tunjukkan dengan mendukung pembuatan mobil Esemka yang berasal dari Solo. Jokowi bahkan menyebutkan, ia ingin agar kendaraan dinasnya adalah mobil Esemka. Sayangnya ketika dibawa ke Jakarta untuk uji kelayakan, Esemka dinyatakan gagal. alah satu keunggulan Jokowi adalah sifatnya yang humanis dan rendah hati, sifat tersebbut salah satunya ia tunjukkan dalam visi misinya ketika terpilih menjadi Gubernur DKI, ia berjanji bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur tidak akan menggunakan Voorijder.
Berbagai kisah sukses kepemimpinan Jokowi di Solo bukan berarti tanpa cela, salah satu yang tampak adalah pembangunan Gapura Makutha di Kota Solo tak kunjung selesai dan terbengkalai selama 1,5 tahun. Selain itu, sifatnya yan tidak tegas sangat jelas tercermin dari dirinya. Beberapa hari sebelum mendaftar Pilgub DKI, ia berkata pada followers Twitternya ia akan tetap menajdi walikota Solo, namun kemudian ia mendaftar di bursa Pilkada DKI.
Ketika ditanya mengenai motivasi menjadi gubernur, Jokowi tidak pernah secara konsisten menjawabnya. Pertama ia bilang karena disuruh partai dan kedua ia sampaikan saat debat kemarin alasan ia menjadi gubernur karena ingin peningkatan karier.  Tentu ini membingungkan calon pemilih karena jawabannya tidak berkesan tulus.
Baik Foke maupun Jokowi memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri. Segala keputusan berada ditangan kita, yang pasti calon sudah ada didepan mata tugas kita sebagai warga negara yang baik adalah memilih salah satunya. Karena jika kita tidak ikut memilih, artinya kita tidak berhak mengeluh untuk semua kebijakan yang nantinya akan dilakukan pemimpin baru tersebut. Jadi, ingin Jakarta berkumis atau kotak-kotak? Pilih salah satunya! (Eby)Sumber